Senin, 01 November 2010

MATARAM ISLAM

Pendiri dinasti Mataram adalah Panembahan Senapati atau Sutawijaya. Moyang Sutawijaya adalah Ki Ageng Sela yang berasal dari keluarga petani biasa. Tetapi dituturkatakan oleh legenda bahwa Ki Ageng Sela ini bukanlah seorang warga pinggiran biasa. Namun, seorang dari desa yang bercita-cita tinggi menggapai langit, salah satu dari kesaktiannya yang paling sering diceritakan oleh orang adalah bahwa beliau ini mampu menangkap petir.

Dalam salah satu hasrat di dalam dirinya, Ki Ageng Sela ini ingin sekali memiliki keturunan yang nantinya bakalan kembali berkuasa di Pulau Jawa, mengingat bahwa beliau merasa bahwa dalam dirinya masih terdapat darah Majapahit. Kelak keinginan terbuka melalui cucu angkatnya, Mas Karebet atau Jaka Tingkir, anak Kebo Kenanga alias Ki Ageng Pengging.

Dalam hidup perkawinannya, Ki Ageng Sela berputrakan 7 orang yaitu masing-masing adalah Nyai Ageng Purungtengah, Nyai Ageng Saba, Nyai Ageng Bangsri, Nyai Ageng Jati, Nyai Ageng Petanen, Nyai Ageng Pakisdadu dan satu-satunya lelaki dan menjadi bungsu dalam keluarga dinamakan Ki Ageng Ngenis.

Ki Ageng Ngenis menurunkan seorang putra tunggal, Ki Ageng Pamanahan serta seorang anak angkat Ki Penjawi. Setelah dewasa, Pemanahan dinikahkan dengan putri sulung Nyai Ageng Saba dari hasil perkawinannya dengan Pangeran Saba, putra Sunan Giri II. Sedang bungsu Nyai Ageng Saba lahir laki-laki bernama Juru Mertani.

Seperti juga Sultan Pajang Hadiwijaya, Pemanahan dan Penjawi serta Juru Mertani adalah murid-murid terdekat Sunan Kalijaga. Dari pergaulan erat inilah kehidupan Pemanahan dan Penjawi terangkat ke lapisan elit Keraton menjadi panglima prajurit Wiratamtama Pajang.

Ki Pemanahan mempunyai 7 anak, 5 diantaranya laki-laki. Yang lahir sulung bernama Sutawijaya, diambil anak angkat oleh Sultan Pajang sebelum permaisurinya, putri ketiga Sultan Trenggana, melahirkan putra mahkota Pangeran Benawa. Dalam tradisi Jawa, pasangan suami-istri jika belum mempunyai anak dan kemudian ingin memiliki anak maka menurut cerita, mereka harus memgambil anak angkat sebagai sarana memperoleh keturunan.

Era Mataram dimulai tahun 1417 ketika Ki Pemanahan menerima huta sebagai hadiah seluas kurang lebih 800 karya dari Sultan Pajang karena Ki Pemanahan berhasil membunuh Arya Penangsang. Hutan yang diberikan itu bernama Mentaok. Sementara itu Penjawi yang ikut berjasa diberi daerah Bumi Pati karena jasanya menumpas pemberontakan Adipati Jipang.

Dengan bantuan para petani dari Sela, Mentaok yang tadinya berupa hutan berhasil dibuka dan dijadikan pemukiman baru dan berganti nama dengan Mataram. Kedudukan Ki Pemanahan adalah sebagai pemilik tanah sementara itu para petani dalam statusnya sebagai buruh penyewa lahan. Pada prinsipnya hal ini sama dengan hubungan gusti - kawula atau priyayi - wong cilik dalam kehidupan Keraton.

Selaku penguasa, Ki Pemanahan memilih gelar Ki Gede Mataram sebagai suatu bukti kesetiannya terhadap Pajang. Dalam Babad Tanah Jawi dituturkan bahwa Sultan Hadiwijaya pada dasarnya semula sempat ragu menyerahkan Mentaok sehubungan dengan ramalan Sunan Giri tentang akan munculnya kerajaan tandingan Pajang.

Perubahan mendasar terjadi semasa Sutawijaya naik menggantikan kedudukan ayahnya dan bergelar Panembahan Senapati. Tanda-tanda memisahkan diri dari Pajang mulai terlihat dengan dibangunnya tembok mengelilingi kota menyerupai Keraton. Kekuatan militer kemudian dibentuk dan penyelenggaraan tata kota organisasi rumah tangganya dibenahi semuanya dengan mengangkat Ki Juru Mertani menjadi penasihat, mengarah pada bentuk pemerintahan yang merdeka.

Langkah ini membangkitkan amarah Pajang. Benturan kekuatan militer tidak dapat dihindarkan dan berakhir dengan kekalahan Pajang dan berbarengan dengan mangkatnya Sultan Hadiwijaya. Panembahan Senapati naik ke puncak kekuasaan. Namun kemelut masih berlanjut.

Tahun-tahun awal berdirinya Mataram merupakan masa yang penuh dengan pergolakan. Banyak daerah yang sebelumnya mengakui kedaulatan Pajang mencoba melepaskan diri dari ikatan Mataram.

Hampir sepanjang periode kekuasaan Panembahan Senapati habis dipakai untuk berperang mengirim serbuan militer guna menundukkan Madiun, Kediri, Panaraga, Pasuruan serta wilayah strategis Surabaya yang sudah bersekutu dengan Tuban, Sedayu, Lamongan, Gresik, Lumajang, Kertasana, Malang, Blitar, Lasem dan Sumenep.

Tahun 1601 Panembahan Senapati meninggal. Pangeran Jolang, putranya tampil sebagai pengganti (1601-1613). Ia bukan sosok raja yang ahli. Selama kurun waktu 12 tahun kekuasaannya, Pangeran Jolang yang juga disebut Panembahan Seda Krapyak selain disibukkan oleh usaha pelepasan diri berbagai daerah taklukan, juga harus menghadapi ancaman pemberontakan kakaknya, Pangeran Puger, Adipati Demak yang kecewa karena tersingkir dari hak pewarisan tahta.

Mas Rangsang, sulung Pangeran Jolang naik ke puncak tahta dan bergelar Kangjeng Sultan Agung Senapati Ingalaga Ngaburachman Sayidin Panatagama. Selama masa berkuasanya Kangjeng Sultan Agung inilah Mataram mencapai puncak keemasannya selama 32 tahun (1613-1645). Ibukota kerajaan dipindahkan dari Kota Gede ke Karta.

Berbeda dengan para pendahulunya, Kangjeng Sultan Agung merupakan politisi ulung disamping beliau juga ahli membuat strategi terutama dalam upaya mempertahankan wilayah kerajaannya. Daerah pesisir semua ditaklukannya kembali.

Bahkan Kangjeng Sultan Agung berani secara terang-terangan melawan dominasi Belanda dengan menyerbu benteng VOC di Batavia meskipun serangan tersebut gagal total.

Sebelumnya sekitar tahun 1624, untuk pertama kalinya Kangjeng Sultan Agung memperkenalkan sebutan Susuhunan sebagai pelengkap gelarnya. Susuhunan, dianggap merupakan gelar yang lebih mulia dibanding Sunan sebagai gelar para wali di Jawa. Gelar Susuhunan tersebut akhirnya beliau tanggalkan setelah tahun 1641 beliau menerima gelar Sultan dari Mekah.

Pengganti Kangjeng Sultan Agung adalah Kangjeng Susuhunan Amangkurat I (1645-1677). Pada masa pemerintahan Amangkurat I, ibukota dipindahkan ke Plered.

Gelar Susuhunan kembali dipakai oleh Amangkurat I, hal ini dikarenakan beliau ingin mengembalikan status raja sebagai penguasa mutlak. Prinsip kekuasaan itulah yang mengakibatkan tidak harmonisnya hubungan raja dengan para bangsawan elit Keraton dan juga para pemimpin Islam. Hal ini terbukti selama masa 32 tahun kekuasaannya selalu dipenuhi oleh konflik berkepanjangan, ketegangan, kecurigaan, ketidakpuasan, skandal bahkan pembunuhan serta pembantaian antar saudara.

Pangeran Alit, adiknya, yang memberontak atas dukungan sejumlah pihak dalam upayanya memperbaiki keadaan, mati terbunuh saat tertangkap di Alun-alun. Hal inilah nantinya yang akan membawa pada kehancuran Mataram.

Putra sulung Amangkurat I yaitu Pangeran Adipati Anom, terlibat skandal asmara dengan Rara Hoyi, yang merupakan simpanan raja. Amangkurat I memerintahkan untuk membunuh Rara Hoyi dan juga 40 anggota keluarga Pangeran Pekik - Adipati Surabya, yang merupakan kakek dari Pangeran Adipati Anom.

Tragedi berdarah ini akhirnya mendorong Pangeran Adipati Anom mengadakan suatu kerjasama rahasia dengan Trunajaya untuk menggulingkan tahta ayahnya. Trunajaya adalah anak Demang Malaya dari Sampang-Madura yang diambil menantu Panembahan Kanjoran.

Persekutuan dengan Trunajaya berhasil dengan dikuasainya Rembang hingga Blambangan. Trunajaya memaklumatkan diri menjadi raja di Kediri dengan bergelar Panembahan Maduretna Panatagama. Tahun 1677 beliau mulai menggerakkan pasukannya menaklukkan Mataram. Plered ibukota Mataram jatuh dan Amangkurat I melarikan diri ke Tegal dan beliau pun meninggal disana, sehingga dikenal pula sebagai Susuhunan Amangkurat Tegalarum.

Adipati Anom kemudian mengangkat dirinya menjadi Susuhunan Amangkurat II dalam pelariannya. Kemudian sang Adipati ini membangun Keraton pengganti di Kartasura (Wanakerta). Kejaraan baru ini mulai ditempati pada hari Rabu Pon tahun 1678 (bulannya tidak disebutkan).

Karena satu dan lain hal, akhirnya Trunajaya dan Amangkurat II yang tadinya bersekutu kini menjadi seteru. Amangkurat II dalam usahanya memadamkan pemberontakan Trunajaya, meminta bantuan kepada kompeni Belanda. Kerjasama inilah kelak yang akan membuahkan hasil terpecahnya Mataram.

Adik Amangkurat II, Pangeran Puger yang berhasil merebut kembali Plered menyatakan diri pula sebagai raja bergelar Susuhunan Ingalaga Ngabdurachman Sayidin Panatagama. Inilah awal mulanya terjadi di bekas wilayah Mataram yang sudah terpecah belah, memerintahnya dua raja.

Pasukan gabungan Kartasura - Kompeni dinilai terlalu kuat bagi Trunajaya. Tahun 1680 Kediri jatuh dan Trunajay tertangkap di dalam pelariannya di Bukit Antang dan akhirnya dihukum mati. Namun kemenangan Amangkurat II ini haruslah dibayar mahal dengan diberikannya beberapa daerah kepada pihak kompeni.

Kemelut ternyata belum berakhir. Kartasura harus menghadapi perlawanan Pangeran Puger. Raja Plered ini akhirnya tunduk dengan menanggalkan gelarnya sebagai pertanda pengakuan atas kekuasaan kakaknya di Kartasura.

Belum lagi ketentraman terjadi, Kartasura harus terlibat pemberontakan Untung Surapati pada tahun 1684. Bekas budak dari Bali dan opsir Belanda ini membelot dari kesatuannya dan meminta perlindungan kepada Amangkurat II.

Untung berhasil membunuh Kapten Tack, komandan militer Belanda yang memburunya dengan dibantu oleh prajurit Kartasura. Namun menurut Babad Tanah Jawi, Pangeran Pugerlah yang membunuh perwira Kompeni itu dengan tombak Kyai Plered -- Pusaka Mataram yang paling bertuah.

Amangkurat II meninggal pada tahun 1703. Pewarisan tahta jatuh ke tangan putranya, Pangeran Mas denga bergelar Amangkurat III. Raja baru ini sebenernya adalah seorang pemimpin yang cakap namun sayang sekali beliau bertabiat buruh - suka wanita, tinggi hati dan pemarah - sehingga amat sangat dibenci rakyat.

Permaisurinya Raden Ayu Lembah, meninggalkannya karena tak tahan dengan perilaku sang Raja. Setelah bertahta bukannya membaik malah tabiatnya bertambah buruk. Terakhir, Raden Ayu Pakuwati, istri muda Adipati Sampang Cakraningrat dinodainya. Hal inilah yang membawanya pada kejatuhan dirinya.

Peristiwa penodaan tersebut membuat Cakraningrat bersekutu dengan Pangeran Puger untuk menjatuhkan Amangkurat III. Didukung kekuatan Belanda, Pangeran Puger pada tahun 1704 dinobatkan di Semarang manjadi raja bergelar Kangjeng Susuhunan Paku Buwono Senapati Ing Ngalaga Ngabdurachman Sayidin Panatagama atau Paku Buwono I.

Dari Semarang inilah Paku Buwono I mengirimkan pasukannya untuk menaklukkan Kartasura, sehingga membuat Amangkurat III menyingkir dari keraton guna bergabung dengan Untung Surapati yang tengah menyusun kekuatan di Jawa Timur.

Tahun 1706 Surapati gugur dalam pertempuran di Bangil menghadapi Belanda dibawah komando De Wilde. Amangkurat III tertangkap dan kemudian dihukum di buang ke Sailan (Srilanka) hingga akhir hayatnya. Kemenangan bagi Paku Buwono I kembali harus dibayar mahal dengan diserahkannya Jepara, Demak, Tegal, Priangan, Cirebon dan Madura bagian timur kepada Belanda.

Sejumlah orang terdekat yang telah membantu Paku Buwono I, oleh beliau dihadiahi pangkat tinggi. Pangeran Cakraningrat diwisuda menjadi Panembahan yang membawahi para adipati di seluruh Madura. Tumenggung Jangrana memperoleh gelar Adipati, sebagai wakil Panembahan Cakraningrat.

Rangga Yudanegara diberi pangkat Adipati dan menguasai Semarang hingga perbatasan ibukota Keraton Kartasura. Ki Setrajaya, pembantu setianya diwisuda menjadi Patih Wredha bernama Adipati Cakrajaya.

Anak-anak Paku Buwono I pun mengalami penyesuaian dalam gelar. Raden Mas Surya Putra diangkat sebagai Pangeran Adipati Anom Hamangkunegara, putra mahkota. Raden Mas Angka menjadi Pangeran Adipati Purbaya. Raden Mas Sudama bergelar Pangeran Adipati Balitar. Radan Mas Antawirya dan Raden Mas Martataruna menjadi Pangeran Prangwedana dan Pangeran Diponegoro.

Panembahan Senapati meninggal di usia yang masih terhitung muda,.... sedih yaaa,... soalnya pada waktu beliau meninggal pamannya Ki Juru Mertani yang waktu itu menjabat sebagai Patih kerajaan mataram bergelar Ki Patih Mandaraka masih hidup,... :(

Kemudian Mas Jolang naik tahta menggantikan Ayahandanya,... sebenernya saat naik tahta,.... beliau bergelar Panembahan Hanyakrawati :( tapi mungkin karena kemudian meninggal di krapyak,.. beliau lebih dikenal dengan Panembahan Seda krapyak

Memang Panembahan Senapati mempunyai banyak putra yang tentunya sebagaimana di berbagai kerajaan,...... jumlah putra yang banyak ini menimbulkan masalah saat menentukan calon pengganti.

Salah Seorang Putra Panembahan senapati,.... Pangeran Puger yang kemudian diangkat menjadi Adipati di Demak memang kemudian menyatakan ketidak puasannya dengan menentang Mataram. Tapi pemberontakan ini berhasil dipadamkan.

Ada lagi riwayat tentang salah seorang Putra Panembahan Senapati yang cukup terkenal yaitu Raden Rangga ;) gak tau deh riwayatnya bener apa enggak,.... yg jelas ada makamnya dan orang ini pernah hidup :) Cuma menurut riwayat memang beliau mati muda (umur belasan)
Raden Rangga ini terkenal bengal,..... menurut cerita kesaktianya tinggi sekali,.... meskipun masih kecil,... akibatnya dengan kesaktianya dia membuat banyak ulah :) seperti tanpa sengaja membunuh orang,.... atau dg iseng melepas binatang buas dipusat kota mataram,.... menghanguskan pepohonan di perkebunan dengan ilmunya,.... bertarung dengan ular naga dsb,.... ==> yg ini udah gak jelas lagi neh dongeng atau sejarah ;D
Tapi buat kalangan keluarga Mataram nama Raden Rangga ini cukupp terkenal :) Ada yang bilang meskipun ibu lahiriahnya berasal dari Pajang,... beliau sebenarnya adalah putra hasil perkawinan dengan Ratu Kidul,.... makanya bisa sakti gitu meskipun gak pernah berguru.

Sesudah Paku Buwono tutup usia pada tahun 1719, Pangeran Adipati Anom Hamangkunagara naik tahta. Beliau lebih memilih gelar Amangkurat IV seperti para kakeknya tinimbang gelar Paku Buwono II meneruskan gelar ayahandanya. Hal ini dilakukan karena beliau mempercayai ramalan yang menyatakan bahwa penggunaan gelar Paku Buwono akan mengakibatkan kerator terseret pada perpecahan besar.

Amangkurat IV yang dikenal juga sebagai Amangkurat Jawi bukanlah seorang pemimpin yang tegas. Kebijakan politiknya terkadang mendua dan sering membuahkan intrik. Ketidak jelasan sikapnya dalam menghadapi Belanda akhirnya membuat kedua pamannya yaitu Pangeran Purbaya dan Pangeran Balitar memisahkan diri darinya dan kemudian bergabung dengan kekuatan Surabaya dalam melawan Belanda.

Amangkurat IV wafat pada tahun 1727 dan digantikan oleh putranya yaitu Raden Mas Gusti Prabu Suyasa yang lahir dari permaisuri Kangjeng Ratu Kencana atau Kangjeng Ratu Ageng, putri dari Bupati Kudus Adipati Tirtakusuma.

Pada saat dinobatkan beliau memakai gelar Paku Buwono II dan masih berumur 16 tahun. Paku Buwono II ini sebenernya anti Belanda. Salah satu contohnya adalah beliau secara diam-diam menyetujui Patih Natakusuma mengirimkan misi rahasia pasukan Kartasura untuk membantu serbuan warga Cina terhadap benteng Belanda di Semarang.

Lama kelamaan Belanda curiga bahwa Paku Buwono II membantu penyerbuan tersebut maka untuk menutup segala kemungkinan, Paku Buwono II berusaha cuci tangan dengan menimpakan segala kesalahan pada Patih Natakusuma yang berakibat dibuangnya sang Patih ke Sailan.

Penangkapan dan pembuangan sang patih tersebut menyulut pergolakan di kalangan bangsawan yang anti kompeni. Mereka, termasuk diantaranya Raden Mas Garendi, cucu Amangkurat III, yang kemudian memimpin penyerbuan ke Kartasura dan akhirnya membuat Paku Buwono II lari ke Ponorogo.

Tahun 1742 Garendi diangkat menjadi Sultan Amangkurat V atau disebut juga Sunan Kuning karena penobatannya didukung oleh etnis berkulit kuning, Cina.

Dalam pengungsian, Paku Buwono II pada tahun 1743 bersedia menerima tawaran bantuan militer Belanda dengan sebuah janji yaitu beliau diharuskan menyerahkan seluruh daerah pantai ditambah daerah-daerah lain seluas 138,422 karya.

Kartasura berhasil direbut kembali namun sayang meskipun Paku Buwono II memperoleh kembali tahtanya, daerah pesisir miliknya sudah hilang diserahkan kepada Belanda.

Menganggap bahwa Kartasura telah kehilangan tuahnya, Susuhunan Paku Buwono II memindahkan pusat kerajaannya ke Desa Sala. Keraton baru ini selesai dibangun pada tahun 1745 dan diberi nama Surakarta Hadiningrat.

Menjelang akhir pemerintahannya, Paku Buwono II masih harus menghadapi pembelotan beberapa keluarga terdekatnya yang kecewa dan sakit hati atas kebijakan politiknya yang melahirkan banyak sekali pejabat penjilat kompeni. Kelak hal inilah yang akan membagi Mataram menjadi empat kerajaan.

Salah satu perlawanan yang dianggap paling mengancam adalah Raden Mas Said, putra Pangeran Mangkunegoro yang dibuang ke Sailan. Pangeran Mangkunegoro adalah adik dari Paku Buwono II namun berlainan ibu. Menguasai Sukowati, perlawanan Raden Mas Said semakin mantap ditambah lagi dengan bantuan dari Pangeran Mangkubumi, mertuanya yang juga saudara muda dari Paku Buwono II.

Namun konflik pribadi dan ambisi antara mereka telah mengubah hubungan menantu-mertua menjadi suatu permusuhan yang pahit. Pangeran Mangkubumi berbalik menjadi lawan Raden Mas Said karena tergiur akan hadiah Sukowati sesuai janji raja kepada siapa pun yang dapat mengusir Raden Mas Said dari tanah tersebut.

Ternyata Mangkubumi tak pernah menerima tanah hadiah yang dimaksud. Lewat pendekatan licik, Patih Pringgalaya berhasil menghasut Gubernur Jenderal Van Imhoff yan gdi tahun 1746 berkunjung ke Surakarta. Hasutan sang Patih adalah agar sang Gubernur Jenderal mementahkan janji raja tersebut dan berhasil. Sakit hati dipermalukan sedemikian rupa, Pangeran Mangkubumi menyusun perlawan dari tepi barat Mataram.

Ditengah kemelut itu, Paku Buwono II jatuh sakit dan meninggal pada tahun 1747. Menjelang mangkatnya, beliau dipaksa menyerahkan seluruh kekuasaannya kepada Belanda. Kedaulatan kerajaan praktis telah tergadaikan tanpa sisa sama sekali.

Kompeni yang memegang kendali di Keraton, mengangkat Raden Mas Gusti Suryokusumo sebagai Paku Buwono III pada 15 Desember 1749.

Ulah kompeni yang membiarkan status sultan dalam kekosongan selama dua tahun, membuat banyak bangsawan dan rakyat Surakarta yang kemudian menyeberang bergabung dengan Pangeran Mangkubumi. Posisi Pangeran Mangkubumi semakin kuat.

Untuk memadamkan perlawanan tersebut akhirnya terjadilah suatu perjanjian segitiga antara Kompeni, Paku Buwono III dan Pangerang Mangkubumi. Perjanjian ini dikenal dengan nama Perjanjian Gianti karena dilaksanakan di Gianti pada 13 Februari 1755.

Peristiwa ini dikenal dengan sebutan "Palihan Nagari". Kesepakatan yang terjadi adalah dipecahnya Mataram menajdi dua bagian sama besar, termasuk pusaka dan isinya. Paku Buwono III atau Sinuhun Swarga memperoleh wilayah timur dengan ibukota tetap di Surakarta Hadiningrat dan Pangeran Mangkubumi menguasai bagian barat dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I berkedudukan di Yogyakarta.

Kekuatan gabungan dari tiga pihak yang telah berdamai akhirnya tidak dapat dilawan oleh Raden Mas Said. Beliau akhirnya menerima tawaran rujuk dari Kompeni. Perjanjian Salatiga pada tahun 1757, disepakati bahwa Raden Mas Said menerima sebagian wilayah Keraton Surakarta dan bergelar Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Mangkunegoro. Setiap minggu KGPAA Mangkunegoro harus melapor kepada Susuhunan Paku Buwono sebagai tanda penghormatan.

Pembagian Mataram awalnya dilihat oleh para elite Jawa sebagai suatu penyelesaian sementara tetapi kemudian pandangan itu disadari keliru belakangan, ketika masing-masing keraton pecahan Mataram justru terlihat berkembang semakin mapan.

Hal inilah yang kemudian mendorong Paku Buwono IV untuk berniat mengembalikan wilayah keraton Surakarta paling sedikit mencakup seluruh Jawa Tengah.

Rencana Paku Buwono IV yang juga populer dengan sebutah Sinuhun Bagus ternyata mengakibatkan hubungan yang tegang antara Yogyakarta - Mangkunegaran - Surakarta dan bahkan nyaris menyulut perang saudara. Krisis tersebut baru dapat diakhiri pada tahun 1799 setelah kompeni kembali campur tangan.

Tahun 1808 ketika HW. Daendels ditugaskan menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda, atribut kedaulatan para raja Jawa dicabut dengan semena-mena, termasuk memecat Sultan Hamengkubuwono II serta mengurangi wilayah dan penghasilan Keraton Surakarta maupun Yogyakarta. Daendels ditarik pulang seiring dengan jatuhnya Hindia Belanda ke tangan Inggris.

Penguasa baru Sir Thomas Standford Raffles (1811 - 1816) tak banyak beda. Ia melakukan hal yang dilakukan oleh Daendels.

Paku Buwono IV meninggal pada 1 Oktober 1820 setelah memerintah selama 33 tahun. Putranya, Raden Mas Gusti Sugandi menggantikannya menjadi Paku Buwono V yang juga dikenal sebagai Sinuhun Sugih. Paku Buwono V hanya berkuasa selama 3 thn dan selama masa pemerintahannya tidak terjadi peristiwa penting.

Putranya yang nomor sebelas yang lahir dari selir Raden Ayu Sosrokoesoemo yaitu Bandara Raden Mas Sapardan, tampil mewarisi tahta dan bergelar Paku Buwono VI atau populer dengan sebutan Sinuhun Bangun Tapa.

Paku Buwono VI ini sangat anti Belanda dan diam-diam ia banyak menyumbang dana dan persenjataan untuk membantu pemberontakan Pangeran Diponegoro. Pertemuan rahasia dengan pangeran dari kesultanan Yogyakarta ini sering diadakan dan secara rahasia dengan mengambil lokasi di Hutan Krewardhana yang terletak di sisi utara Keraton Kasunanan Surakarta.

Ketika persekutuannya dengan Pangeran Diponegoro terbongkar, Paku Buwono VI berniat melakukan pemberontakan terang-terangan. Beliau pergi meninggalkan istana dan kemudian melakukan semedi di Pantai Selatan untuk memohon putra kepada Allah. Besar dugaan ini merupakan dongeng tersamar, karena pengertian putra tersebut bukan mustahil mengartikan keinginan memperoleh kembali bumi Mataram.

Sebab itulah beliau ditangkap oleh Belanda dan seterusnya diasingkan ke Ambon pada tahun 1829. Paku Buwono VI wafat pada 2 Juni 1849. Beliau diakui sebagai Pahlawan Nasional.

Tahta keraton jatuh ke tangan Raden Mas Gusti Maliki Salikin, putra ke 23 Paku Buwono IV dari permaisuri Kangjeng Ratu Kencana. Sebab, Paku Buwono VI belum memperoleh putra dari permaisurinya, Kangjeng Ratu Hemas, yang saat ditinggalkan ke tanah pengasingan sedang hamil tua.

Bergelar Paku Buwono VII, Maliki Salikin berkuasa selama 1830 - 1858. Dalam hidup perkawinannya ia hanya mempunyai dua putri. Karenanya, Bandara Raden Mas Kusen tampil sebagai pengganti pada usianya yang sudah sangat tua yaitu 69 tahun. Paku Buwono VIII ini adalah putra keempat Paku Buwono IV yang lahir dari selir Raden Ayu Rantamsari.

Tanggal 28 Desember 1861 beliau tutup usia dengan meninggalkan empat anak, seluruhnya perempuan. Barulah kemudian tahta jatuh ke tangan Raden Mas Gusti Duksina. Putra nomor lima Paku Buwono VI yan glahir sulung dari permaisuri ini yang diwisuda tanggal 30 Desember 1861 pada umur 31 tahun, bergelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono Senopati Ing Ngalaga Ngabdurahman Sayidin Panataga Ingkang Kaping IX.

Setelah mangkat tahun 1893, almarhum Paku Buwono IX digantikan putra mahkotanya yang telah dipersiapkan sejak bayi, Raden Mas Gusti Sayidin Malikul Kusna. Inilah masa terpenting kebangkitan kembali kehidupan kebudayaan Keraton Surakarta setelah lama tenggelam dalam kemelut pemberontakan, persengketaan dan pertikaian keluarga.

Masa pemerintahan Sinuhun Paku Buwono X merupakan masa paling menarik untuk diamati. Dalam kurun 46 tahun mulai 1838 sampai 1939 inilah keraton mampu *****arkan kehidupan kebudayaan di tengah kekuasaan politiknya yang sebaliknya cenderung semakin suram.

Putra Paku Buwono IX yang lahir dari permaisuri Kangjeng Ratu Paku Buwono ini, oleh ayahnya telah ditetapkan menjadi putra mahkota bergelar Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamangkunagara Sudibya Rajaputra Narendra Mataram sejak masih berusia 3 tahun. Sebagai Pangeran Adipati Anom, Malikul Kusna berhak atas gaji sekitar 15,000 gulden setiap bulannya. Padahal status ini berlangsung selama 28 tahun. Sehingga pada saat beliau diangkat menjadi Sinuhun Paku Buwono X pada 30 Maret 1893, ia sedikitnya mempunya kekayaan pribadi lebih dari 5 juta gulden, yang kelak banyak ditanamkannya dalam berbagai bentuk perusahaan disamping untuk menyempurnakan bangunan keraton dan sarana umum bagi kepentingan rakyat.

Di tahun - tahun awal kekuasaannya, tokoh sentral Keraton Kasunanan Surakarta ini sangat dipandang remeh oleh hampir seluruh pejabat Belanda. Sebuah penilaian yang kelak dikemudian hari akan banyak membuat para pemimpin Belanda tersebut menyesal dalam salah tafsir.

Banyak hal terjadi di masa awal-awal pemerintahan Sunan Paku Buwono X, salah satunya adalah perjanjian yang harus beliau tandatangani pada tanggal 30 Maret 1893 yang antara lain secara tegas dalam perjanjian tersebut dikatakan bahwa raja memungkinkan dicopot dari kedudukannya jika gagal memenuhi kewajibannya sebagaimana tercantum dalam perjanjian.

Tetapi apakah hal tersebut itu benar akan membuat Paku Buwono X menjadi tunduk sepenuhnya kepada pemerintah Belanda, merupakan suatu yang masih dipertanyakan. Gubernur Jenderal Van der Jagt pernah menulis dalam salah satu laporannya, "Ia (Paku Buwono X) sangat 'loyal' kepada Pemerintah. Namun dalam batinnya terpendam naluri nenek moyangnya, naluri seorang penguasa Timur dan prajurit Timur."

Tidak ada komentar: